Disabilitas rungu (juga disebut disabilitas pendengaran) adalah kondisi di mana seseorang mengalami penurunan atau kehilangan kemampuan mendengar, baik sebagian maupun total.
Penting untuk dipahami: Komunitas Tuli (dengan T kapital) sering memandang diri mereka sebagai kelompok budaya-linguistik, bukan sebagai penyandang disabilitas. Mereka memiliki bahasa, budaya, dan identitas tersendiri.
Klasifikasi Gangguan Pendengaran
1. Tuli Kongenital
Lahir dalam kondisi tuli atau mengalami ketulian sebelum usia 3 tahun (sebelum bahasa berkembang).
2. Tuli Pasca-Bahasa (Post-Lingual Deafness)
Kehilangan pendengaran setelah bahasa lisan berkembang, umumnya karena penyakit atau kecelakaan.
3. Gangguan Pendengaran Ringan-Sedang
Kesulitan mendengar dalam situasi tertentu (keramaian, jarak jauh) tetapi masih bisa berkomunikasi lisan.
4. Tinnitus
Kondisi di mana seseorang mendengar suara (denging, siulan) yang tidak ada sumbernya dari luar. Dapat sangat mengganggu kualitas hidup.
5. Sindrom Usher
Kondisi genetic yang menyebabkan gangguan pendengaran DAN penglihatan (retinitis pigmentosa).
Bahasa Isyarat di Indonesia
Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) adalah bahasa alami komunitas Tuli di Indonesia. BISINDO berbeda dengan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) yang merupakan sistem buatan berbasis tata bahasa Indonesia lisan.
Teknologi untuk Disabilitas Rungu
- Alat Bantu Dengar (Hearing Aid): memperkuat suara
- Cochlear Implant (Implan Koklea): perangkat elektronik yang menggantikan fungsi koklea
- Keterangan Teks (Subtitles/Captions): critical untuk konten video
- Aplikasi Video Relay: untuk panggilan telepon menggunakan interpreter
- Perangkat Getar: bel pintu, alarm, notifikasi berbasis getaran
Cara Berkomunikasi dengan Ramah
- Pastikan wajah Anda terlihat jelas saat berbicara
- Bicaralah dengan jelas, tidak perlu berteriak
- Gunakan gestur dan ekspresi wajah
- Sediakan alternatif tertulis untuk informasi penting
- Pelajari beberapa isyarat dasar BISINDO